[REVIEW BUKU] ANGER MANAGEMENT, JANGAN BAWA RANSEL EMOSIMU SEUMUR HIDUP

[REVIEW] ANGER MANAGEMENT, JANGAN BAWA RANSEL EMOSIMU SEUMUR HIDUP

Buku Anger Management


Saat buku Anger Management datang, saya tak sabar ingin melihat isinya. Buku motivasi memang banyak beredar namun yang mengkhususkan pada amarah tidaklah banyak. Emosi yang meletup-letup atau pun kemarahan yang terpendam dapat bermanivestasi dalam berbagai wujud.


Ransel Emosi yang Tak Jua Dihempaskan


Setiap orang memiliki ransel yang dipenuhi emosi dari perjalanan hidupnya. Seperti pendaki yang membawa ransel menuju puncak semakin ke atas seharusnya ransel itu semakin ringan agar langkahnya tak tertahan oleh beban di pundak. Pun manusia yang seharusnya tidak terus menerus memasukkan berbagai emosi dan menyesakkannya ke dalam ransel dan memanggulnya seumur hidup.

Dalam buku Anger Management yang ditulis oleh Dandi Birdy dan Diah Mahmudah isi ransel emosi kita berasal dari tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini dan masa datang.
Suatu siang yang terik di sebuah perempatan yang sibuk di Jakarta, lampu lalu lintas mendadak mati. Kondisi ini membuat pengendara dari berbagai arah saling mendahului maju dan terjadi keributan di tangah-tangah lalu lintas karena tak ada yang mau mengalah. Pengendara sepeda motor di Jakarta yang cenderung enggan berhenti menjadi emosi saat lajunya dihalangi kendaraan lain.

Kontan saling teriak antara pengendara sepeda motor dengan sopir mobil pun tak terelakan lagi. Kemarahan akibat saling merasa berhak dan merasa benar itu bukan sekadar teriakan yang mengundang pengendara lain berkerumun namun juga ikut terlibat secara emosional.

Si pengendara motor memalang jalan mobil dan berteriak sambil mengacung-acungkan kartu yang ternyata adalah kartu pers. Entah apa ancaman yang dilontarkannya tak begitu jelas karena pengendara lain yang merasa terganggu juga ikut-ikutan marah. Ya, mereka marah kepada pemuda pengendara motor yang berteriak menuduh sopir mobil tersebut membuat macet. Faktanya justru karena si pemuda ini mengamuk dan berteriak-teriaklah jalanan menjadi semakin macet dan semrawut.

Penyebab yang sepele seperti itu saja bisa memicu kemarahan begitu besar. Sungguh tidak masuk akal. Jika masing-masing melepaskan saja ketidak terimaan atas kondisi yang tidak ideal tersebut bukankah semua akan baik-baik saja? Tak perlu ada konflik yang menyebakan masalah semakin besar?

Kemarahan di jalan raya adalah hal biasa jika hidup di Jakarta yang padat dan selalu macet dimana-mana. Apakah kondisi ini wajar? Apa yang menyebabkan orang begitu mudah tersulut dan memapiaskan ketidakpuasan pada orang lain dengan mudah?

7 Kekeliruan Paradigma Emosi

Buku Anger Management

Dandi dan Diah [Dandiah] memetakan 7 kekeliruan paradigma emosi:
  1. Tabu laki-laki menangis
  2. Mengalihkan vs Mengalirkan
  3. Melupakan
  4. Toxic Positivity
  5. Diam atau lawan
  6. Meminta bantuan tentang kesehatan mental adalah aib
  7. Marah itu tabu


Semua paradigma itu dijelaskan secara mendetail dan mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu juga dijelaskan dampak fatalnya kemarahan bagi penyandang “ransel emosi”. 

Anger Management The Life Skill


Dandiah membeberkan mekanisme Anger Management secara rinci mulai dari dinamika anger management, konsep-konsep self healing therapy hingga menjadi pribadi yang bahagia dan merasa bebas.

Buku ini bukan sekadar teori psikologi namun lebih kepada "How to". Meski memberi gambaran step by step sama sekali tidak menjadikan buku ini kaku dan menggurui. Setiap orang bisa mengikuti langkah demi langkah sesuai kecepatannya masing-masing. 

Melepaskan emosi negartif bukan perkara gampang dan cepat, tetapi sebuah proses.
Setelah membacanya saya merasa langkah-langkah dalam buku ini bisa diterapkan secara bertahap dan terus menerus. Iya, kita tidak bisa berhenti dan merasa baik-baik saja hanya setelah mecoba praktek beberapa kali. Hidup kita terus berjalan, pasti akan nada emosi-emosi lain yang tanpa sadar kita jejalkan lagi dalam ransel emosi kita. Terpenting jangan mudah menyerah dengan diri sendiri, sayangilah diri kita karena kitalah orang pertama yang wajib menyayanginya.

Dan terakhir, jujurlah pada diri sendiri, karena itu adalah langkah awal menjadi diri kita yang terbaik dan berbahagia. Selama proses membaca buku Anger Management, berkali-kali saya berkata dalam hati "Duh, ini gue banget", "Oh, pantas saja begitu, ternyata...". Yah, memang hidup tidak seindah impian, tapi kita tetap harus memiliki impian untuk membuat hidup lebih indah. 

Salam

Eka Murti

Artikel Terkait