URUSAN DAPUR: DULU ALERGI, SEKARANG BERANI MASAK PORSI BANYAK


URUSAN DAPUR: DULU ALERGI, SEKARANG BERANI MASAK PORSI BANYAK


Urusan dapur alias masak memasak bukan keahlian yang saya miliki sejak dulu. Bahkan bisa dibilang saya alergi dapur. Secara harfiah, saat berada di antara aneka bumbu khususnya cabai yang di goreng secara otomatis saya akan terserang bersin-bersin hebat, mata berair dan hidung tersumbat. Bahkan jika berada terlalu lama dekat kompor yang membara atau merajang bumbu yang bergetah “panas” seperti bawang-bawangan dan cabai,maka kulit wajah, leher dan tangan akan terserang gatal-gatal serta memerah.

Itulah kenapa ibu saya sering kali melarang jika saya bermaksud membantu di dapur saat memasak, karena bukannya mempercepat justru merepotkan. Sebentar gatal, sebentar bersin, dapur sempit itu jadi terasa sesak dan berisik.

Akhirnya saya menyingkir dan hanya kembali untuk mempersiapkan hidangan yang telah matang ke dalam piring saji. Hingga besar saya pun tak bisa memasak. Pernah suatu ketika ibu sedang pergi ke luar kota, jadilah bapak yang memasak. Anak gadis ini duduk manis saja menunggu matang. Sungguh terlalu ya, hahahaha.

Sejak dulu saya ini memang cenderung tomboy, mungkin karena tumbuh di antara dua saudara laki-laki. Bahkan seorang teman hingga sekarang pun masih menganggap saya tomboy meski sudah memakai gamis sekalipun. Aneh ya? Tapi begitulah adanya.

Urusan dapur
Teman-teman saya pun takjub dan tak percaya

Belajar karena terpaksa
Setelah hidup terpisah dari orang tua saya belajar memasak karena terpaksa. Awalnya itu adalah siksaan maha dahsyat. Untuk meminimalisir dampak alergi saya tidak memasak apapun yang berhubungan dengan cabai-cabaian. Bersin-bersin terhindari, tapi gatal tetap terjadi.
Hanya tekad sekuat baja yang membuat saya bertahan terus berada di dapur. Masakan pertama adalah udang goreng mentega. Saya pilih karena gampang, hanya iris-iris bawang Bombay ditambah aneka kecap. Yups, berhasil meski rasanya terlalu asin. Supaya dapat dimakan saya cuci udangnya dan masak dari awal lagi sausnya. Jika menurut keterangan resep tersebut dimasak dalam waktu tidak lebih dari 30 menit, saya menyelesaikannya dalam waktu 1 jam 30 menit.

Merasa puas, saya memberanikan diri mempersembahkan masakan tersebut untuk bapak saya yang sangat menyukai seafood. Orang-orang di rumah semula tak percaya itu masakan saya, mereka menuduh hasil membeli di restaurant.

Sukses masakan pertama saya memasak untuk yang ke dua kalinya, selama berbulan-bulan saya hanya memasak masakan ala Chinese food saja. Bumbunya sederhana, masaknya mudah dan cepat serta hasinya nampak seperti buatan koki professional.

Hadiah yang Tak Terduga


Seorang kenalan tiba-tiba memberi saya hadiah sebuah hand mixer, karena beliau mau pindah ke luar kota. Saat itu saya bingung akan digunakan untuk apa, karena saya tidak bisa membuat kue apapun. Takdir mempertemukan saya dengan sebuah oven listrik kecil saat mendapat hadiah undian dari sebuah bank. Kedua alat itu seperti berkonspirasi memaksa saya melakukan percobaan membuat kue.

Bolu pertama hasilnya bantat dan gosong, pun kue kering yang terlalu garing dan keras. Tak ada yang bisa dimakan. Padahal saya sudah mengikuti aturan sesuai resep. Kegagalan itu membuat penasaran dan saya terus mencoba hingga berhasil membuat kue yang lezat.

Menerima Pesanan


urusan dapur
Tantangan masak ala catering
Memasak untuk satu-dua orang tentu berbeda dengan memasak untuk puluhan orang orang. Sungguh nekad memang saat saya menerima sebuah tantangan untuk menyediakan makan siang sebanyak 4 porsi berupa nasi kuning dan lauk pauknya.

Tantangan itu datang dari sebuah komunitas blogger yang saya ikuti Blogger Jakarta untuk menyediakan makan siang saat acara sharing session bulan November lalu.  Sharing session yang membahas cara menaikan Domain Authority (DA) blog, diikuti pemilihan ketua Blogger Jakarta periode 2018-2019. Dasar nekad, saya iyakan saja, meski jujur saya tidak tahu apa yang akan terjadi.

Akhirnya saya “dipaksa lagi untuk upgrade kemampuan. Belajar memenejemen segala sesuatunya, karena saya harus mempersiapkan dan menyelesaikan semuanya seorang diri. Manajemen waktu, 

resep yang sesuai untuk hidangan dengan porsi besar serta menghitung biaya produksi dan lain-lain.
Alhamdulillah, hasilnya tidak mengecewakan. Peserta merasa puas dan saya pun gembira. Lega luar biasa berhasil menyelesaikan tantangan pertama. Terima kasih kawan-kawan Blogger Jakarta yang telah percaya kalau saya bisa (love … love… pokoknya).

Blogger Jakarta Crew


Sekarang saya siap menerima pesanan lainnya. Semoga berkah. Aamiin. So, kalau ada yang merasa tidak bisa memasak jangan putus harapan, terus belajar dan mencoba sampai berhasil. Semangat!

Salam,

Eka Murti



Artikel Terkait