BEDAH BUKU “MELAWAN KONSPIRASI GLOBAL DI TELUK JAKARTA


BEDAH BUKU “MELAWAN KONSPIRASI GLOBAL DI TELUK JAKARTA"


Acara bedah buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta" berlangsung pada tanggal 15 Agustus 2018 di Sanggar Maos Tradisi Sleman - Jogjakarta. Dalam sambutannya saat membuka acara bedah buku yang dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum ini,  sdr. Firman dari SP JICT (Serikat Pekerja PT. Jakarta Internasional Countainer Terminal) mengatakan bahwa " SP JICT akan melakukan roadshow ke kota-kota agar masyarakat mengetahui kondisi pelabuhan Tanjung Priok saat ini. Serta agar masyarakat luas mendukung Pelabuhan harus dikelola oleh anak bangsa sendiri, "Kami tidak anti investasi asing tapi kami ingin pelabuhan dikelola oleh Indonesia sendiri" lanjut Firman.
Firman dari SP-JICT memberi sambutan pada acara
bedah buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta"

Penulis buku buku "Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta" . Ahmad Khoirul Fata,mengatakan, "Kami tertarik menulis buku Konspirasi Global Teluk Jakarta karena ini adalah isu global yang penting. Bahan satu dus kami terima, kemudian melakukan riset dan juga wawancara." 

Waktu yang diperlukan untuk penulisan buku Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta ini hanya 1 bulan dilakukan oleh 2 orang penulis yang satu di Jakarta satunya lagi berada di Surabaya. Kolaborasi tersebut mengahasilkan sebuah buku yang isinya patut menjadi renungan dan dipahami masyarakat karena menyangkut kondisi asset nasional negara kita.

 
Ahmad Khoirul Fata, penulis buku Melawan Konspirasi di Teluk Jakarta

Gambaran perjalanan perpanjang kontrak JICT ke tangan asing yang menjadi masalah berkepanjangan





Hasil audit investigasi BPK -RI, negara dirugikan begitu banyak akibat kasus JICT KOJA.






Pelabuhan JICT dan Koja berperan vital terhadap ekonomi nasional dan kedaulatan NKRI.Namun terindikasi bahwa asset-aset strategis tersebut justru dijadikan jaminan utang.

"Diskusi buku seperti "Konspirasi Global Teluk Jakarta" ini perlu diangkat ke media sosial agar rakyat lebih banyak yang tahu, kata Dr. Ari Sujito.

Relevansi isu ini adalah bahwa ketika bicara kemaritiman dan potensi laut, itu bisa mendudukan kemandirian Indonesia secara ekonomi. 

Sementara Dr. Aris Arif Mundayat, dosen UNHAN mengatakan bahwa ekonomi bisa memperkuat pertahanan sebuah negara. Di tahun ini, Indonesia import gandum sudah mencapai sebesar 8 ton. Hal ini, adalah salah satu sebab nilai rupiah terus melorot.

Dr. Aris Arif Mundayat, dosen UNHAN

Pada kesempatan yang sama Capt. Subandi, Ketua GINSI (Gabungan Importir Nasional Indonesia) mengemukakan pendapatnya, "Sejatinya pelabuhan adalah kawasan strategis & simbol kedaulatan negara. Privatisasi pelabuhan kepada asing sama saja mengobral rahasia pertahanan negara


Seperti keinginan Presiden Jokowi untuk membangun kedaulatan maritime, harus direspon secara positif dengan membenahi BUMN terlebih dahulu. BUMN yang sehat dan bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Jangan sampai asset nasional ini justru jatuh ke tangan asing hanya karena permainan kepentingan segelintir orang saja. Harus ada reformasi BUMN, bukan hanya sekedar jauh dari korupsi tapi juga punya banyak manfaat untuk rakyat.

 
Suasa bedah buku di Sleman- Jogjakarta

Poin penting bahasan bedah buku  “Melawan Konspirasi Global di Teluk Jakarta adalah:

  1.   Pelabuhan merupakan aset strategis bangsa. Pelabuhan itu terpenting adalah bagaimana meletakkan konteks desain pelabuhan sebagai kerangka ekonomi besar.
  2.       Ada kecenderungan, aset-aset strategis jadi jaminan utang, sperti JICT dan TPK Koja.
  3.     Dengan dijadikan jaminan maka kemungkinan asset nasional tersebut jatuh ke tangan asing  akan sangat besar.
  4.       Perlakuan atau kondisi seperti di JICT (Pelindo II) banyak diduplikasi oleh BUMN lainnya.


Tentu akan timbul pertanyaan mengapa SP-JICT yang notabene hanya sebuah serikat pekerja begitu sibuk mengurusi kondisi perusahaan bukan hanya mengurusi nasib pegawai yanag di PHK secara tidak adil saja?

Atau hanya sebatas mengurusi model outsourching yang akan mengambil sekitar 40% dan sisanya 60% utk pekerja. Dengan alasan 40% dari gaji pekerja untuk pembelian seragam, dll karena pekerja tidak memiliki ikatan terhadap perusahaan. Model outsourching yang jelas-jelas merugikan pegawai.

Karena SP JICT bukan sekadar Serikat Pekerja biasa yang hanya memperjuangkan kesejahteraan buruh saja. Tapi SP JICT berjuang agar JICT tidak lepas ke tangan asing hanya karena alasan utang.

Sekali lagi. Serikat Pekerja bukan sekadar memikirkan nasib diri sendiri sebagai pekerja di pelabuhan, namun jg memikirkan bangsa ini. Memikirkan kelanjutan nasib asset negara di teluk Jakarta.



Eka Murti





Artikel Terkait

1 komentar so far