“Menembak Hantu”: Me Time anti mainstream




Melihat film laga di televisi saat adegan tembak menembak sepertinya seru dan sangat mudah. Cukup membidikan senjata dan… Dor! Target pun tumbang.

Saat ada tawaran untuk mencoba latihan menembak di lapangan Batalyon kavaleri 7 Cijantung tentu saja tak disia-siakan. Beberapa bidadari bersemangat dan menyambut antusias. Lapangan tembak terletak di dalam dan jauh dari jalan raya. Target telah di pasang dalam jarak 10 meter. Meja-meja di susun berderet sesuai jumlah peserta.

Sebelum latihan dimulai diberikan pengarahan terlebih dahulu, demi menjaga keselamatan bersama. Bagaimana cara memgang senjata yang benar, cara membidik, cara menarik pelatuk, cara meletakkan senjata pun harus dipahami dengan jelas.

Kali ini senjata yang digunakan adalah laras pendek atau pistol buatan PT. PINDAD. Pistol buatan dalam negeri kreasi anak bangsa. Ternyata meski terlihat ringan pistol tersebut cukup berat apalagi saat dipegang dengan tangan terentang lurus kearah target. Dalam keadaan apapun ujung pistol (laras) tidak boleh mengarah kepada orang lain, kunci pengaman selalu harus terpasang hingga sesaat sebelum menembak.


Para peserta berdiri berjejer menyesuaikan target masing-masing. Tidak boleh menembak sebelum ada aba-aba.

“Bersiap”, seluruh peserta berdiri santai dnegan posisi siap.
“Membidik”, lalu semuanya serius menatap dan menyesuaikan senjatanya dengan target yang dituju.
“Tembak”… Dor… dor.. dor.. masing-masing peserta hanya boleh menembak satu peluru saja dalam satu waktu.


Ternyata tak semudah yang dikhayalkan. Daya dorong saat pelatuk ditarik dan peluru meluncur cukup kuat menghentak. Bahkan suaranya pun lumayan membuat kaget, lebih nyaring dari petasan caberawit yang sering kita dengar saat ada hajatan atau di bulan Ramadhan. Telinga yang tak terlindung akan berdengung sebentar.

Lalu proses pun  diulang dari awal untuk tembakan ke dua dan ketiga. Setiap orang mendapat giliran menembakkan tiga butir peluru. Meski telah diantisipasi tetap saja rasa kaget itu datang lagi saat pelatuk ditarik dan terdengar letusan.

Setelah selesai ada aba-aba “Clear”, artinya seluruh pistol telah terkunci, telah benar-benar kosong dari peluru dan telah aman untuk diletakkan di atas meja. Lalu kami meninjau target masing-masing. Aku terkejut saat melihat kertas targetku yang berbentuk lingkaran-lingkaran dengan angka-angka poin yang tertulis makin besar saat menuju titik pusat itu masih bersih seperti sebelum menembak.

“Itu sih menembak hantu” celetuk seorang pelatih seraya senyum-senyum melihat hasil tembakan para bidadari yang nyaris tak satu pun mengenai sasaran. Bagaimana pun hasilnya setidaknya kita telah mencoba sesuatu yang baru. Melawan keraguan, ketakutan dan ketergesaan sesaat sebelum menembak target. Ternyata menembak hantu pun membutuhkan keberanian.

#JagatMaheswari
#AktifitasSeru

Artikel Terkait

6 komentar