Explore Our Content Collection!

Browse through our gallery of expertly-crafted content to find the perfect one for your inspiring.

VIVO S1 SMARTPHONE TERBAIK PEREKAM MOMEN TERINDAH


VIVO S1 SMARTPHONE ANDROID TERBAIK PEREKAM MOMEN TERINDAH


Hasil Foto dengan Vivo S1  32MP Al Sefie Camera 

Setiap kali kita keluar rumah benda yang mesti kudu wajib dibawa adalah. handphone Ketergantungan kita kepada teknologi memang sudah sesuai zamannya. Sekarang segala sesuatu ada di handphone. Jadwal kerja, media sosial, ojek online dan dompet digital semua aplikasinya ada dalam satu genggaman. Termasuk foto-foto penuh kenangan. Dimanapun kapanpun kita terbiasa mengambil berbagai ragam foto. Bahkan hal seperti bukti transaksi pun perlu difoto untuk dokumentasi.

Apalagi saat kita melakukan aktivitas seru atau bertemu teman-teman. Momen yang sangat berarti ini harus diabadikan dengan kamera yang canggih supaya hasilnya maksimal. Sedih kan kalau momen yang ingin kita simpan tidak terekam dengan bagus.

Yuk, kenalan dengan VIVO S1
Vivo S1 Skyline Blue &  Cosmic Green


Pada suatu siang yang cerah, saya menghadiri sebuah acara komunitas Blogger Jakarta. Di acara tersebut saya berkesempatan berkenalan dengan smartphone terbaru Vivo S1.
Bentuk fisiknya tipis dan nyaman dalam genggaman. Melihat warna cashing-nya yang keren banget. AVivo S1 membuat terobosan dalam design handphone dengan menggunakan pelapisan nano-ion yang menghasilkan dua warna cantik.Cosmic Green dan Skyline Blue. Duh, saya terharu-biru pokoknya. Skyline blue itu pas digenggam rasanya nggak mau dilepas lagi deh..seperti menggengam kenangan kita....eeeaaa ....

Eh, tapi beneran lho, Vivo S1 ini menggenggam kenangan indah kita. Dilengkapi kamera 32MP Al Sefie Camera dan Al Triple Rear Camera dengan kamera utama beresolusi 16MP, 8MP AI Super-Wide Angle Camera untuk hasil foto yang lebih luas hingga 120 derajat, dan 2MP Depth Sensor Camera untuk hasil foto yang keren .
Mau foto rame-rame dengan kamera depan atau selfie hasilnya sama-sama cetar membahana. Lihat hasil fotonya langsung bikin hati berbunga-bunga. Wuiiih... Wajah nampak kinclong tanpa perlu oles-oles serum. Meski pencahayaan didalam ruangan tidak terlalu terang tapi hasilnya tetap maksimal karena ada fitur AI Filter, AI Selfie Lighting, AR Stickers, dan AI Face Beauty.

Hasil foto dengan Vivo S1 Al Triple Rear Camera



Layar 6.38” super AMOLED Ultra all Screen. Dengan ukuran layar 6.38 inch FHD+, resolusi 1080×2340, aspek rasio 19.5:9, dan persentase screen-to-body ratio sebesar 90%. menikmati foto-foto kenangan menjadi semakin asyik. Semua nampak jelas di layar selebar itu. Jadi, semua wajah dalam foto kita kelihatan. Meski ada yang ngumpet di belakang tetap akan ketahuan. Mau bersembunyi? Oh, tidak semudah itu, Kisanak.

Saat kita menggunakan handphone tentu saja kita selalu ingin siap sedia sepanjang hari. Malas banget saat butuh eh, baterenya drop. Apalagi saat asyik nonton film, sangat mengganggu keasyikan. Vivo S1 ini aman karena kapsitas baterenya besar. Baterai Vivo berkapasitas 4.500 mAh dengan Dual-Engine Fast Charging.

Unlock Your Style

Hasil foto dengan Vivo S1 Al Triple Rear Camera
Cashing dengan design 2.5D yang nyaman digenggam ini menghasilkan design yang memukau. Pasti lebih stylish untuk dibawa kemana-mana.

Memilih hape mesti mikirin soal RAM juga dong ya. Tenanglah Vivo S1 sudah memiliki RAM 4 GB dan ROM 128 GB. Aman kalau mau download aplikasi maupun video. Dan simpanan hasil foto-foto pun muat banyak.

Penting juga mengutamakan keamanan handphone android kita. Vibo S1 ini sudah dilengkapi teknologi pembukaan handphone terbaik Screen Touch ID. Cukup dengan satu sentuhan layar Vivo S1 langsung terbuka dengan cepat. Tersedia pula berbagai animasi yang menghasilkan sensasi menyenangkan saat membuka handphone. Cepat dibuka dan aman, wah, ini mempermudah kita para pengguna handphone yang maunya serba praktis.

Ada lagi keseruan lainnya. Kita bisa lho, bergabung dengan komunitas smartphone android Vivo. Dimana para pengguna Vivo bisa saling bertemu dan bertukar informasi pada sebuah forum handphone android. Forum diskusi pengguna vivo bernama Vivo Club ini banyak manfaat saat kita bergabung. Salah satunya kita akan mendapat undangan untuk datang pada event-event Vivo berikutnya.

Yuk, langsung saja cek media sosial Vivo:
Instagram: @vivoclub_indonesia
Facebook Fan page: Vivo Club Indonesia
Youtube Channel: Vivo Club Indonesia

Memilih handphone  harus disesuaikan dengan kebutuhan kita. Smartphone android dengan spesifikasi dan tampilan keren, teknologi terkini dan harga terjangkau seperti Vivo S1 memang sudah selayaknya ada dalam genggaman kita.

salam

Eka Murti













GWRF 2019: TAK PERLU ADA PENDEFINISIAN KARYA SASTRA INDONESIA


GWRF 2019


Sudah menjadi pemahaman umum saat membaca sebuah karya sastra lalu sertamerta membuat kategorinya apakah tulisan tersebut merupakan sebuah puisi atau prosa.

Dua pembicara yang hadir di kelas GWRF 2019 kali ini adalah senior dalam bidang sastra Indonesia. Salah satunya bahkan hingga saat ini masih aktif mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Prof Sapardi Djoko Damono yang akrab disapa "Eyang" adalah seorang sastrawan dan budayawan dengan jam terbang yang tinggi.

Nara sumber berikutnya adalah Yudhistira AMN Massardi, seorang sastrawan yang pernah berhenti menulis selama 25 tahun dan membuat kejutan tahun ini dengan mengeluarkan novel baru.

Keseruan kelas-kelas GWRF 2019 lainnya bisa dilihat di sini:

Puisi dan Prosa

Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.

Sedangkan puisi menurut KBBI adalah:
Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Eyang Sapardi menegaskan bahwa definisi puisi atau prosa itu berasal dari luar negeri belum tentu sesuai dengan kondisi indonesia. Jadi tak perlu melabel karya sastra Indonesia. Terkadang bahkan penulisnya pun hanya menulis saja tidak memasukan karyanya dalam kategori tertentu.

Jadi terserah pada pembaca ingin memersepsikannya seperti apa. Tak perlu lagi mengaitkan sebuah karya dengan si penulis. Karena saat sebuah karya lahir maka si penulis mati. Artinya diri pribadi penulis telah lebur ke dalam karyanya. Sehingga cukup hanya mengapresiasi karya sastra tersebut saja.

Menulis Sajalah!


Menurut Yudhistira menulis dan membaca adalah satu koin dua sisi. Mulai menulis dari satu huruf. Sedangkan Eyang Sapardi menegaskan menulislah jangan pernah takut dituduh menjiplak. Lebih baik mencuri ilmu dari orang lain saat kita mengembangkan kemampuan menulis.
Selanjutnya Eyang Sapardi mengisahkan masa-masa lalu kesulitan dalam mengakses karya-karya sastra sebagai rujukan. Jangan mempermasalahkan akan menjadi seperti apa karya kita nantinya.

Sibuklah berkarya dan terus belajar tak perlu mengkotak-kotakan karya kita atau bahkan mendefinisikan diri sebagai penulis puisi atau penulis novel. Apapun hasilnya itulah pengejawantahan diri penulis. Bebaskan dan tuangkan ide dan imajinasi dalam karya kita.

Bersama Yudhistira AMN Massardi


Ada beberapa karya yang butuh waktu lama untuk diselesaikan tetapi ada yang hanya membutuhkan waktu singkat.
Bagi Yudhistira puisi adalah Percikan perasaan dan pikiran yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Eyang Sapardi di suatu waktu pernah menulis 18 buah puisi dalam sehari.

Sastra dan Teknologi



Berbeda dengan generasi sekarang yang sangat mudah mendapat informasi apapun melalui kecanggihan teknologi. Tak perlu memisahkan karya sastra dari teknologi justru harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Namun jika ternyata teknologi tidak mendekatkan komunitas sastra dengan karya-karya sastra itu adalah akibat kemalasan.

Komunitas sastra lebih sibuk dengan diri sendiri tapi malas membaca. Padahal kemudahan akses terhadap karya sastra semakin mudah.

Generasi milenial dimanjakan dengan teknologi. Semua media untuk menulis sudah terbuka. Bisa melalui perangkat handphone yang praktis dan sangat memudahkan.

Media penayangan karya pun skr lebih mudah. Dan juga termasuk media untuk mencari referensi.

Masalah lainnya dalam mengenalkan karya sastra kepada generasi muda adalah guru-guru yang tidak membaca karya sastra. Sudah waktunya melek sastra dan bahasa sehingga dapat menyebarkan virus literasi pada anak didik.

Perkembangan teknologi seharusnya membuat karya sastra semakin dekat dengan pembaca dan penulis pun mendapat kemudahan dalam mengembangkan diri dan menyebarluaskan karya-karyanya.

GWRF 2019


Salam literasi

Eka Murti


GWRF 2019: Buku dan Perjalanan Menembus Batas


GWRF 2019: Buku dan Perjalanan Menembus Batas


GWRF2019

Jika penulis dan pembaca bertemu di GWRF 2019 (Gramedia Writer & Reader Forum) yang dibahas tentu saja BUKU. Bukan hanya proses perjalanan sebuah ide yang dieksekusi menjadi sebuah buku tetapi juga perjalanan buku-buku tersebut sampai ke tangan pembacanya dan dapat dirasakan manfaatnya.

It's not destination it's a journey

GWRF 2019
Yang terpenting adalah perjalanan itu sediri bukan tujuan akhirnya. Topik ini muncul saat berbincang dengan para petualang yang berkeliling Indonesia dan dunia serta menceritakan kisah-kisah seru mereka dalam sebuah buku.


Ngobrol asyik bersama tiga petualang yang telah menulis buku tentang perjalanan mereka (Hendra Fu, Claudia Kaunang & Trinity) merupakan sebuah oase yang menyegarkan di tengah-tengah tema-tema lainnya yang lebih serius di GWRF 2019 ini.
Menyimak bagaimana mempersiapkan sebuah perjalanan membutuhkan persiapan yang matang khususnya mental baja jika kita ingin melakukan solo traveling.

Sebuah perjalanan membutuhkan perencanaan yang baik meskipun situasi bisa berubah seratus delapan puluh derajat di lapangan. Terlebih saat kita berhadapan dengan lingkungan dan budaya asing dengan bahasa yang tidak kita pahami.
Sebuah perjalanan adalah proses belajar tentang kehidupan. Mengenal manusia lain yang sama-sama menetap di bumi ini. Bukan untuk saling membandingkan tapi untuk saling belajar dan mengembangkan toleransi.

Sebuah perjalanan adalah waktu untuk mengenal diri sendiri, kemampuan serta batasan-batasan diri sendiri.
Sebuah perjalanan memberi pelajaran kehidupan yang masiv, karena pengalaman adalah guru yang terbaik.

Keseruan kelas-kelas GWRF 2019 lainnya bisa dilihat disini:

It's a destination and also a journey

GWRF 2019

Yups, tujuan itu penting bagi perjalanan sebuah buku hingga dapat dinikmati dan diambil manfaatnya oleh pembacanya.
Maka seharusnya buku tersampaikan kepada pembaca sesuai tujuan awal penulis dan kebutuhan pembaca.

Bagi komunitas literasi, meningkatkan minat baca bukan hanya perkara kurangnya pasokan buku, namun seringkali buku yang tersedia tak sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Bagi masyarakat yang hidup dari melaut tentu lebih membutuhkan buku-buku terkait teknik penangkapan ikan ketimbang buku tentang cara pembuatan pupuk organik untuk tanaman buah. Pun usia pembaca, banyak buku yang beredar di taman-taman baca tak sesuai bagi anak-anak yang justru paling sering memanfaatkan fasilitas taman baca tersebut.

Permasalahan-permasalahan ini merupakan bagian dari perjalanan komunitas literasi di Nusantara. Terutama di daerah 3T,  merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Di daerah yang jauh dari ibu kota provinsi memiliki masalah yang kompleks. Salah satunya pertumbuhan ekonomi yang masih terhambat akibat kurangnya pembangunan infrastruktur. Selain itu masih ada masalah buta huruf.

Penduduk yang buta huruf pada 1995 masih berada di atas 13%, tapi mulai 2014 telah berada di bawah 5%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik penduduk usia di atas 10 tahun yang buta huruf pada 2017 mencapai 4,08% dari total populasi penduduk usia di atas 10 tahun. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya 4,19%. Sementara penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta huruf 4,5% dan penduduk usia 15-45 tahun yang tidak bisa membaca dan menulis 0,94%. Adapun penduduk usia di atas 45 tahun yang buta huruf mencapai 11,08%.

Maka gerakan komunitas literasi menjadi ujung tombak memberantas buka huruf sebagai bagian dari literasi dasar yang harus dikuasai oleh masyarakat Indonesia.

Sebuah buku bukan hanya hasil pemikiran penulis yang tertuang dalam lembar-lembar cetakan namun jauh daripada itu memiliki efek domino yang panjang bagi pembaca secara individu, bagi lingkungan dan muaranya adalah manfaat yang signifikan bagi sebuah bangsa.

Salam Literasi

Eka Murti









GWRF 2019: 2 GENERASI 2 SUDUT PANDANG


GWRF 2019: 2 GENERASI- 2 SUDUT PANDANG SASTRA INDONESIA

GWRF 2019

GWRF 2019  Diawali dengan sebuah kelas dimana penulis-penulis generasi milenial yang menjadi pembicara. Dengan gaya bicara yang santai namun penuh semangat memberi gambaran bagaimana generasi milenial dalam menanggapi berbagai persoalan dalam hidup kesehariannya, lugas dan cepat.

Generasi Milenial dan Media Sosial

Sesi kali ini membicarakan topik  "Show your creation with social media". Interaksi ketiga penulis Luluk HF, Poppi Pertiwi & Asabella Audida secara atraktif memberi ganbaran bagaimana menjadi penulis "zaman now". Kemampuan mengembangkan ide menjadi sebuah cerita tentu menjadi poin utama. Namun ada hal penting lain yang tak luput harus diperhatikan jika ingin cerita kita dibaca khalayak luas.

Ketiga penulis bukan hanya menulis sesuai segmen mereka yaitu remaja dan dewasa muda saja namun juga mengembangkan kemampuan untuk menarik minat orang membaca buku mereka. Sesuai segmen pembacanya cara mempromosikan cerita mereka pun menggunakan media yang paling dipahami generasi milenial "media sosial".

Mereka bukan hanya "menjual" kisah namun juga berkomunikasi dan berinteraksi dengan pembaca melalui media sosial. Hal ini terbukti memberi dampak positif dalam penjualan buku-buku mereka. Penulis dan pembaca nyaris tak berjarak. Kondisi ini membentuk sebuah komunitas pembaca yang militan, yang selalu menanti cerita-cerita selanjutnya.

Nampaknya mempromosikan tulisan melalui media sosial adalah pekerjaan mudah. Karena hanya dengan ketik dan klik di media sosial semua bisa terjadi dalam sekejap. Sesungguhnya hal ini bukan pekerjaan remeh semata, tapi dibutuhkan kerja keras dan konsistensi untuk terus menjaga antusiasme "crowd".  Manajemen media sosial pun dikelola secara sungguh-sungguh oleh sebuah tim khusus. Memiliki rencana dan strategi yang dapat menarik minat pembaca sangat diperlukan mengingat segala sesuatu di media sosial dapat berubah dengan cepat. Harus selalu up to date dengan kondisi saat ini dan kemampuan memprediksi tren ke depan dan segera mengantisipasinya.


Sastra Indonesia di Kancah Dunia



Di Kelas yang lain pembicaraan tentang sastra Indonesia menjadi sebuah diskusi yang menarik.

Ayu Utami dan Anya Rompas adalah dua orang penulis dengan genre dan  idealisme yang berbeda. Timbul sebuah pertanyaan "sastra Indonesia itu seperti apa?" Definisi dan legitimasi siapa dan bagaimana sastra Indonesia seharusnya menjadi perbincangan yang seru dan "hot".

Masing-masing pembicara memiliki pendapat yang dipegang kuat hingga akhir kelas. Kami, para pembaca yang menjadi peserta di kelas itu--- jika belum tahu--- menjadi paham apa yang sebenarnya terjadi di kalangan penulis  Indonesia saat ini. 

Saya mengambil kesimpulan sederhana bahwa sastra Indonesia dikancah dunia adalah sebuah perjalanan panjang yang diwarnai pergolakan di kalangan pelaku sastra itu sendiri. Lalu pertanyaan itu pun terus bergaung "Seperti apakah wujud wajah sastra Indonesia yang akan di kenal dunia?" Jawabannya jelas tak akan ditemukan dalam ruang kelas manapun.

Keseruan kelas-kelas GWRF 2019 lainnya bisa dilihat di sini:



Sejatinya sastra adalah expresi jiwa bukan semata  pada definisi dan legitimasi oleh kubu-kubu yang terkungkung pandangan sempit.

Seharusnya perbedaan  memperluas lahan berkembangnya literasi bukan sebaliknya justru membatasi atau menyekat-nyekat.


Dua kelas hari ini memberi gambaran dunia lietarasi yang berbeda berkembang sesuai habitat masing-masing. Memberi warna dan memperkaya khasanah literasi bahasa dan budaya masyarakat.


Salam literasi

Eka Murti

#GWRF2019







GWRF 2019 AJANG PENGEMBANGAN LITERASI BAHASA DAN BUDAYA DI INDONESIA

GWRF 2019 AJANG PENGEMBANGAN LITERASI BAHASA DAN BUDAYA DI INDONESIA

GWRF 2019

Gramedia Writer Reader Forum (GWRF) 2019 mengusung tema "Literacy in Diversity". Keberagaman adalah sebuah kenyataan bagi negeri kita. Keberagaman sudah melekat sejak awal negara kita berdiri. Maka sudah seharusnya keberagaman menjadi sebuah kekuatan untuk kemajuan bangsa dan bukan menjadi penghalang atau justru perusak persatuan bangsa. Dengan mengenbangkan literasi yang berlandaskan keberagaman diharapkan dapat meningkatkan pemahaman literasi masyarakat Indonesia dalam hal literasi bahasa dan juga budaya.

Menurut UNESCO  literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Menurut UNESCO, pemahaman seseorang mengenai literasi ini akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

Ada 6 Literasi dasar dalam Gerakan Literasi Nasional.
1. literasi baca tulis
2. numerasi
3. sains
4. Digital
5 finansial
6. budaya dan kewarganegaraan

Minat Baca dan Literasi Baca Tulis

Berdasarkan survey yang dilakukan Organization for Economic Corporation and Development (OECD) tahun 2015 menunjukkan minat baca anak Indonesia tergolong rendah yakni berada pada peringkat 69 dari 76 negara dengan skor rata-rata 397 dari skor rata-rata internasional 500.

Sementara Kang Maman Suherman salah satu pembicara padaGWRF 2019 mengatakan bahwa tingginya minat baca masyarakat suatu negara akan memiliki dampak ke segala segi kehidupan bukan hanya meningkatkan kemampuan individual saja. Dari hasil penelitian nampak korelasi antara minat baca dengan kebahagiaan. Negara dengan penduduk yang banyak membaca buku adalah negara dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi.

Secara implisit nampak bahwa orang yang melek literasi baca tulis dan membaca banyak buku memiliki kemampuan untuk berkembang lebih cepat dalam berbagai segi kehidupan lainnya.

Literasi Baca Tulis dan Budaya

Dalam mengembangkan literasi yang berdasar pada keragaman ini diharapkan akan bermuara pada meningkatnya literasi budaya masyarakat Indonesia. Dengan beragamnya literasi baca tulis masyarakat dapat menerima perbedaan dengan pikiran terbuka. Mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa.

Keseruan kelas-kelas GWFR 2019 bisa dilihat di sini:



Dengan berkembangnya "Literacy in Diversity", berkembang pula kemampuan memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Kebudyaan bangsa yang beragam adalah kekayaan bangsa yang harus dilestarikan dan dikembangkan menjadi kekuatan bangsa Indonesia.
Dialog Penulis dan Pembaca
GWRF mempertemukan penulis dan pembaca dalam satu forum. Meski santai namun perbincangan di dalam kelas-kelas diharapkan mampu memberi perspektif baru mengenai literasi di Indonesia. Mencerahkan dan memberi wawasan baik bagi pembaca juga bagi penulis dan secara umum bagi perkembangan literasi di Indonesia.

Salam

Eka Murti

#GWRF2019



Menata Rumah Tempat Hati Merasa Nyaman


Menata Rumah Tempat Hati Merasa Nyaman



Indonesia Property Expo (IPEX) 


Indonesia Property Expo (IPEX) yang digelar setiap tahun selalu membawa nuansa yang menyegarkan dalam industri properti di Indonesia. Bukan hanya pameran properti saja namun juga digelar acara-acara yang terkait seperti talk show bertema mendekorasi rumah, seperti yang di adakan pada hari Rabu 31 Juli 2019.

Hunian di kota besar seperti Jakarta sudah memiliki harga yang tinggi dengan lahan terbatas. Bukan berarti dibangun asal saja tanpa perencanaan. Karena rumah yang nyaman sangat penting bagi penghuni untuk merasa kerasan menempatinya.
Rumah bukan sekadar bangunan yang kokoh dengan gaya arsitektur terbaru. Sejatinya rasa nyaman dan aman saat pulang ke rumah adalah salah satu hal penting bagi kebahagiaan keluarga. 

Dengan rumah yang asri dan berkarakter sesuai penghuni maka setiap anggota keluarga yang tinggal di dalamnya akan merasa nyaman. Fungsi rumah sebagai tempat perlindungan dan beristirahat dpaat terpenuhi.

Yuk, Mendekor Rumah Mungil

Memiliki hunian dengan luas lahan yang terbatas membutuhkan trik khusus agar bisa menjadi hunian yang memiliki sisi fungsional dan artistic secara seimbang. Karena keterbatasan itulah maka diperlukan teknik khusus dalam menata interior rumah. Bertempat di Hall B JCC Jakarta disela-sela berlangusngnya event Indonesia Properti Expo (IPEX 2019), Adelya Vivin seorang interior designer memberikan “Tips dan Trik Menata Ruang Mungil”.

Meski lahan terbatas namun kita tetap bisa berkreasi sesuai apa yang kita idam-idamkan
.
1.       Tentukan tema yang kita inginkan agar pembelian dan penataan furniture bisa menyesuaikan.
2.       Tentukan anggaran belanja seusai kemampuan kita. Jangan sampai demi rumah idaman kita menjadi bermasalah dalam pengaturan keuangan keluarga.

3.       Kebutuhan ruang untuk seluruh anggota keluarga. Diskusikan dengan jelas ruang apa saja yang memang dibutuhkan dan disesuaikan dengan ruangan yang ada.
Setelah menentukan tema kita mulai dengan menyusun kebutuhan seperti
1.       Furniture. Pemebelian furniture harus sesuai dengan tema yang telah disepakati.
2.       Sirkulasi udara harus diperhatikan agar rumah menjadi segar dan sejuk tidak membuat penghuni merasa sesak.
3.       Penentuan warna cat dinding. Untuk ruang mungil sebailnya menggunakan warna cerah seperti putih maupun warna terang lainnya agar ruangan terasa lebih luas dan terang.
4.       Penyimpanan. Jika tak punya ruang khusus untuk gudang harus disiapkan ruang-ruang khusus untuk menyimpan berbagai barang yang sebaiknya tak nampak sepeti alat-alat kebersihan rumah tangga.
5.       Pencahayaan. Rumah yang terang tentu terasa menenangkan dan memudahkan dalam melakukan berbagai aktivitas. Pencahayaan bisa secaraalami melalui jendela dan bukaan-bukaan atau dengan lampu yang bentuk dan penempatannya disesuaikan dengan kondisi ruangan. Untuk ruang makan sebaiknya pencahayaan harus terang agar semua terlihat jelas. Tentu berbeda dengan kebutuhan pencahyaan untuk kamar tidur.

Mendekorasi rumah mungil memang membuthkan kreativitas tanpa batas agar tercipta hunian yang nyaman.  Di Indonesia Properti Expo kita bisa melihat berbagai design rumah yang ditawarkan. IPEX 2019 ini diikuti pengembang dengan lokasi perumahan diberbagai propinsi di Indonesia dan berbagai jenis hunian baik rumah maupun apartmen.

Menata Ruang Kerja


Pembicara ke dua adalah Zata Ligouw “Tip dan Trick Menata ruang kerja di Rumah”. Memiliki ruang kerja di rumah bagi pekerja lepas tentu merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Lebih bagus jika memang ada ruang khusus. Namun bahkan jika kita hanya memiliki sebuah sudut di rumah pun tak menjadi halangan untuk bekreasi dalam menciptakan sepetak ruang pribadi untuk bekerja.

Melihat-lihat maket apartemen di IPEX 2019 ini memberi gambaran betapa sebuah “ruang” menjadi begitu berharga. Maka ruang kerja pun perlu ditata sedemikian rupa agar membuat nyaman dan mendorong kreativitas dalam bekerja.
Meja adalah pokok dari sebuah ruang kerja. Tentu meja yang sesuai kebutuhan. Sesuaikan tinggi meja agar kita nyaman saat menulis atau mengerjakan berbagai hal di sana. Terpenting adalah meja harus kuat dan sesuai dengan anggaran. Tak perlu memaksa diri untuk membeli meja mahal, yang penting fungsi dan ukurannya tepat.

Baik mendekor rumah maupun ruang kerja selain keseuaian furniture kita juga membutuhkan kesegaran berbagai tumbuhan agar ruangan menjadi asri dan menyenangkan.
Banyak inspirasi bisa kita dapat saat mengunjungi IPEX , yang penasaran boleh kunjungi media sosialnya https://www.instagram.com/indonesiapropertiexpo dan bisa melihat berbagai aktivitas terkait properti di Indonesia.

Salam

Eka Murti



Seberapa Serius Kita Menciptakan Kota Layak Anak?


Seberapa Serius Kita Menciptakan Kota Layak Anak?

Diskusi Kota Layak Anak - Yayasan Lentera Anak

"It takes a village to raise a child", pribahasa Afrika.

Membesarkan seorang anak bukan hanya sebatas terpenuhinya sandang pangan dan papan belaka. Meski pemenuhan kebutuhan dasar tersebut memang harus ada tetapi masih banyak hal lain yang diperlukan untuk anak dapat bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Menjadi anak-anak yang bahagia dan kelak menjadi manusia dewasa yang berkualitas.

Seperti pepatah Afrika di atas, membesarkan seorang anak membutuhkan peran serta seluruh desa. Ini menunjukkan bahwa lingkungan berperan penting dalam tumbuh kembang anak.

Hak-Hak Anak


Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Cara berpikir dan cara memandang dunia sekitarnya sangat berbeda dari cara orang dewasa memandang sebuah persoalan. Kondisi ini menempatkan seorang anak dalam posisi lemah. Membutuhkan orang-orang dewasa dalam keseluruhan proses pertumbuhannya.

Sebuah konvensi internasional telah mengatur hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kultural anak-anak dalam bentuk Konvensi Hak Anak (KHA). Negara-negara yang meratifikasi konvensi internasional ini terikat untuk menjalankannya sesuai dengan hukum internasional. 

Ratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Pemerintah telah menetapkan peraturan dan undang-undang terkait ratifikasi Konvensi Hak Anak yaitu:
1.      Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
2.      Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3.      Peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur tentang kesejahteraan anak, pengadilan anak, pekerja anak, penghapusan kekerasan terhadap anak, dan perdagangan anak.

​Konvensi Hak Anak memiliki 5 klaster substantif:

1) Hak sipil dan kebebasan. Setidaknya terdapat 3 hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa;
(a)​ Semua anak harus memiliki akta kelahiran.
(b)​ Meningkatkan akses anak terhadap informasi, dan di lain pihak perlu disertai upaya mencegah anak atas informasi yang tidak layak dikonsumsi terutama dari pengaruh negatif pornografi dan kekerasan.
(c)​ Meningkatkan partisipasi anak.

2) Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Terdapat 3 hal penting, yaitu;
(a) Lingkungan keluarga yang aman dan nyaman bagi anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, termasuk penyediaan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) dan upaya penurunan perkawinan usia anak.
(b)​ Bagi anak-anak yang tidak memiliki orang tua (kandung atau pengganti), perlu diciptakan suatu pola pengasuhan alternatif yang berkualitas.
(c) Penyediaan lembaga konsultasi bagi keluarga dalam mendidik dan mengasuh anak, misalnya dalam bentuk Pusat Pembelajaran Keluarga (PPK).

3) Kesehatan dasar dan kesejahteraan, yang mengatur 3 (tiga) hal penting, yaitu;
(a)​ Memastikan setiap anak sehat dan bergizi baik.
(b)​ Anak tumbuh dan berkembang dalam kondisi kesejahteraan diri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya yang sejahtera.
(c) Menyediakan pelayanan ramah anak di lembaga-lembaga penyedia layanan kesehatan, terutama di Rumah Sakit dan Puskesmas.

4) Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, yang meliputi 2 hal penting, yaitu;
(a) Semua anak harus sekolah, sejalan dengan program Wajib Belajar 12 Tahun, disertai dengan perwujudan Sekolah Ramah Anak (SRA) serta penyediaan Rute Aman dan Selamat ke/dari Sekolah (RASS).
(b)​ Pemanfaatan waktu luang yang diperlukan anak karena anak juga harus beristirahat dan mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang memang diminati dan positif, termasuk kegiatan budaya melalui pembentukan Ruang Kreatifitas Anak.

5) Perlindungan khusus anak, yang mencakup upaya-upaya yang harus dilakukan agar setiap anak tidak didiskriminasi dan tidak mengalami kekerasan selama hidupnya. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 59 terdapat 15 anak yang dikategorikan anak yang memerlukan perlindungan khusus (AMPK), termasuk anak berkebutuhan khusus, anak penyandang disabilitas, anak pada situasi bencana, anak-anak marjinal, dan lain-lain.

Selain lima klaster substantif, KHA juga mengadopsi 4 prinsip:
1.      Non diskriminasi,
2.      kepentingan yang terbaik bagi anak,
3.      hak hidup kelangsungan dan perkembangan serta
4.      penghargaan terhadap pendapat anak.

Kelima klaster substantif ditambah 4 prinsip tersebut menjadi indikator bagi sebuah kota untuk mendapatkan predikat kota layak anak.

Kota Layak Anak (KLA)

Indikator KLA (sumber: kla.id)

Menciptakan sebuah kota layak anak membutuhkan kerja sama seluruh stake holder. Keluarga, lingkungan, pemerintah, LSM dan dunia usia. Penting bagi pemerintah di tingkat kota untuk berani bersikap menjadikan kotanya sebagai kota layak anak.

Penilaian kota layak anak tentu saja memiliki beberapa tingkatan sesuai cakupan yang telah dicapai oleh tiap-tiap kota/kabupaten.
Sejauh mana sebuah kota/kabupaten secara konsisten telah menerapkan berbagai aturan, melengkapi sarana dan prasarana serta payung hukum yang melindungi hak-hak anak akan mempengaruhi peringkat kota tersebut dalam penilaian sebagai kota layak anak.

Lihat Sekitar Kita

Diskusi Kota Layak Anak - Yayasan Lentera Anak

Diskusi Kota Layak Anak - Yayasan Lentera Anak

Sebuah diskusi dalam rangka memperingati hari anak Indonesia di kantor Yayasan Lentera Anak di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan tentang Kota/Kabupaten Layak Anak menjadi ajang yang penuh dengan inspirasi. Memberi pencerahan tentang kondisi kota-kota di Indonesia saat ini. Sudah seberapa serius pemerintah kota berupaya menciptakan kota layak anak. Fakta anak-anak di kota besar dan di kabupaten terpencil memiliki permasalahan yang berbeda. 

Menarik disimak bagaimana sebuah kabupaten/kota mendapatkan peringkat sebagai Kota Layak Anak. Indikator-indikator yang nampak secara jelas dan dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung.

Sudah bukan masanya kita bersikap masa bodoh dengan lingkungan sekitar. Terutama terakait lingkungan tempat tingal anak-anak. Di kota-kota besar seperti Jakarta menciptakan sebuah kota layak anak bukanlah hal mudah. 

Pemerintah kota harus berupaya dengan sangat keras dan konsisten untuk menciptakan lingkungan yang aman. Sementara kita tahu beberapa titik merupakan wilayah yang rawan dengan tingkat kriminalitas tinggi. Lingkungan yang tidak kondusif bagi anak untuk bertumbuh.
Meskipun dalam hal pendidikan dan kesehatan pemerintah kota telah memiliki kebijakan yang pro anak dengan pendidikan gratis 12 tahun serta adanya kartu Jakarta Pintar yang membantu biaya operasional anak dalam menempuh pendidikan. Namun urbanisasi  yang menyebabkan heterogenitas dalam masyarakat seringkali menciptakan celah-celah kesenjangan dalam area sosial dan ekonomi. 

Kehidupan di kota besar memiliki dampak negatif bagi orang dewasa sekalipun terlebih pada anak yang seharusnya senantiasa merasa aman dan terlindungi. Faktanya hal itu tak selalu bisa berjalan sesuai harapan.
Paparan iklan rokok dan pornografi, kekerasan serta tenaga kerja anak di sektor informal masih menjadi halangan untuk mendapatkan peringkat tertinggi dalam kategori Kota Layak Anak.
Mari lihat sekitar kita, sudah seberapa serius kita berusaha menciptakan sebuah kota layak anak? Seberapa besar peran serta kita sebagai individu, bagian dari keluarga dan bagian dari masyarakat dalam menciptakan kota yang ramah pada anak dan mendukung tumbuh kembang anak sesuai fitrahnya?
Setiap anak memiliki hak yang sama dan setara. Maka, hambatan sosial dan ekonomi sudah selayaknya tidak menghalangi seorang anak dari hak-haknya. Disinilah peran pemerintah diperlukan sebagai regulator yang mengatur dan membuat kebijakan ramah anak. LSM dan industri dituntut untuk saling mendukung terciptanya sebuah kota layak anak. Dimana anak bisa merasa aman, nyaman dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Menikmati hak mendapat pendidikan dan bertumbuh kembang dalam suasana damai.

Anak Indonesia yang tumbuh sehat jasmani dan rohani serta bahagia adalah gambaran masa depan bangsa. Di tangan merekalah kita menitipkan diri di hari tua nanti, maka mulai sekarang sudah selayaknya kita berusaha semaksimal mungkin memberi ruang dan dukungan terbaik bagi anak-anak.

Selamat Hari Anak Nasional untu anak-anak Indonesia.

Salam,

Eka Murti